WASHINGTON - Presiden Barack Obama mengatakan, hubungan Amerika Serikat dan China akan membentuk abad 21. Karenanya, kedua negara harus menjalin kerja sama saling menguntungkan dalam berbagai isu, seperti krisis ekonomi hingga perubahan iklim dan program nuklir Korea Utara.
"Hubungan antara AS dan China akan membentuk abad 21, yang menjadikan itu sama pentingnya seperti hubungan bilateral lainnya di dunia ini. Kenyataan yang ada harus memperkuat kemitraan kita," ujar Obama dalam forum US-China Strategic and Economic Dialogue di Washington DC, yang dilansir Reuters, Selasa (28/7/2009).
Meski begitu, Obama tetap mendesak Negeri Tirai Bambu untuk menghormati dan melindungi kelompok etnis maupun agama minoritas, merujuk pada kericuhan antara etnis minoritas Muslim Uighur dan Han di Xinjiang dan kondisi di Tibet.
Pertemuan dua hari antara AS dan China merupakan kelanjutan pembahasan yang dimulai pada pemerintahan George W Bush untuk mempererat hubungan ekonomi kedua negara.
Dialog kini mencakup sejumlah isu, termasuk perubahan iklim dan kebijakan senjata nuklir. "AS dan China harus melanjutkan kolaborasi untuk mencapai denuklirisasi di Semenanjung Korea," cetus Obama
ISLAMABAD - Peluncuran kapal sela
m nuklir pertama India mendapat respons negatif dari tetangganya, Pakistan. Kapal selam yang dapat membawa rudal balistik itu dianggap mengganggu perdamaian dan stabilitas kawasan.
India meluncurkan kapal selam nuklirnya pada Minggu 26 Juli lalu sebagai bagian dari rencana membangun lima kapal selam. Kapal bernama Arihant itu akan menjalani uji coba sebelum dipergunakan resmi pada 2015.
Arihant mampu meluncurkan rudal balistik dengan sasaran di laut, darat, dan udara. Kapal tersebut juga melengkapi tiga serangkai pesawat, misil, dan kapal selam yang bisa membawa hulu ledak nuklir. Kapal selam itu memakai reaktor bekekuatan 85 megawatt dengan kecepatan 24 knot (44 km/jam) saat menyelam.
Sementara Pakistan hanya memiliki pesawat dan misil yang bisa membawa muatan nuklir.
"Pakistan yakin bahwa pemeliharaan keseimbangan strategis adalah penting untuk perdamaian dan keamanan di Asia Selatan," sebut juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam pernyataan yang dikutip dari Reuters, Selasa (28/7/2009).
"Tanpa masuk ke dalam perlombaan senjata dengan India, Pakistan akan mengambil langkah untuk melindungi keamanan dan memelihara keseimbangan strategis di Asia Selatan," tambah pernyataan itu.
India dan Pakistan pernah terlibat dalam tiga perang semenjak lepas dari Inggris pada 1947, dan hampir saja kembali berperang untuk keempat kalinya pada 2002.
Proses perdamaian yang dimulai awal 2004 dihentikan sementara oleh India setelah serangan kelompok bersenjata di Mumbai pada November tahun lalu yang menewaskan 166 jiwa